Perayaan Tahun Baru Berjalan Kondusif, Publik Apresiasi Kesiapsiagaan Aparat Keamanan

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*

Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi salah satu momentum penting yang kembali menguji kesiapsiagaan negara dalam menjamin rasa aman masyarakat. Dengan mobilitas publik yang sangat tinggi, libur akhir tahun selalu menghadirkan potensi risiko, mulai dari kemacetan, kecelakaan lalu lintas, gangguan keamanan, hingga ancaman bencana alam akibat cuaca ekstrem. Namun, rangkaian perayaan akhir tahun kali ini menunjukkan satu pesan kuat: negara hadir dan bekerja, sementara publik memberikan apresiasi atas kinerja aparat keamanan dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Sejak awal, pemerintah telah menegaskan bahwa pengamanan Natal dan Tahun Baru bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan agenda strategis nasional. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, menekankan pentingnya pengamanan yang terpadu, antisipatif, dan humanis. Arahan ini sejalan dengan instruksi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan keselamatan masyarakat dan stabilitas keamanan sebagai prioritas utama. Pendekatan ini mencerminkan wajah pemerintahan yang tegas sekaligus mengedepankan sisi kemanusiaan.

Evaluasi pengamanan tahun-tahun sebelumnya menjadi pijakan penting dalam menyiapkan langkah-langkah strategis. Pada periode Natal dan Tahun Baru sebelumnya, jumlah pelaku perjalanan mencapai sekitar 95 juta orang. Meski demikian, situasi tetap terkendali dan relatif kondusif. Bahkan, data menunjukkan adanya penurunan angka kecelakaan lalu lintas sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, disertai penurunan jumlah korban kecelakaan. Fakta ini menjadi indikator nyata bahwa sinergi antarinstansi berjalan efektif dan mampu memberikan dampak langsung bagi keselamatan publik.

Memasuki akhir 2025 dan awal 2026, tantangan tidak semakin ringan. Peningkatan mobilitas masyarakat berpotensi memicu kepadatan lalu lintas, kejahatan jalanan, hingga praktik premanisme. Di sisi lain, kondisi cuaca ekstrem juga menimbulkan risiko bencana di sejumlah wilayah seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Pemerintah tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Justru, dengan pendekatan antisipatif dan koordinasi lintas sektor, berbagai potensi gangguan dapat dikelola sejak dini, sehingga tidak berkembang menjadi krisis.

Langkah konkret terlihat dari kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengerahkan lebih dari 147 ribu personel gabungan dalam Operasi Lilin 2025. Pengamanan dilakukan secara menyeluruh, mencakup rumah ibadah, pusat perbelanjaan, simpul transportasi, hingga lokasi perayaan tahun baru. Keterlibatan TNI, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya urusan satu institusi, melainkan tanggung jawab kolektif bangsa.

Kehadiran langsung Kapolri di tengah jemaat Misa Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta memberikan pesan simbolik yang kuat. Negara menjamin kebebasan beribadah dan memastikan setiap warga dapat merayakan hari besar keagamaannya dengan aman dan khidmat. Lebih dari itu, ajakan untuk mendoakan saudara-saudara sebangsa yang terdampak bencana di Sumatera memperlihatkan bahwa pengamanan tidak berdiri sendiri, tetapi berpadu dengan empati sosial dan solidaritas kebangsaan.

Polri bersama seluruh stakeholder terkait berkomitmen melakukan pengamanan Nataru dengan sebaik-baiknya, melalui sinergi lintas instansi, serta melibatkan partisipasi masyarakat. Diharapkan seluruh rangkaian kegiatan Nataru diharapkan berjalan aman, tertib dan kondusif.

Dari sektor transportasi, pemerintah juga menunjukkan keseriusannya. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi turun langsung meninjau Pelabuhan Gilimanuk dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali. Langkah ini menegaskan bahwa keselamatan dan pelayanan publik tidak boleh lengah meski satu fase perayaan telah terlewati. Antisipasi lonjakan penumpang, pengecekan kelaikan sarana transportasi, serta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem menjadi fokus utama. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemerintah bekerja hingga ke detail teknis demi memastikan kelancaran arus mudik dan balik libur akhir tahun.

Bali, sebagai salah satu pintu masuk utama pariwisata nasional dan internasional, menjadi etalase penting wajah Indonesia. Keamanan bandara, pelabuhan, dan objek wisata di Pulau Dewata bukan hanya soal kenyamanan wisatawan, tetapi juga citra negara di mata dunia. Dalam konteks ini, sinergi antara aparat keamanan, operator transportasi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.

Apresiasi publik terhadap aparat keamanan juga terlihat di daerah. Di Kabupaten Garut, misalnya, sinergi antara awak media dan jajaran kepolisian selama Operasi Lilin Lodaya 2025 menjadi potret hubungan yang konstruktif. Dukungan moril berupa pemberian makanan dan minuman kepada petugas di lapangan mencerminkan pengakuan atas kerja keras aparat yang berjaga sejak pagi hingga larut malam. Pelayanan yang humanis dan profesional terbukti berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas dan kenyamanan masyarakat.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan global yang tidak ringan, keberhasilan menjaga kondusivitas akhir tahun memberikan optimisme bagi publik. Apresiasi masyarakat terhadap kesiapsiagaan aparat keamanan menjadi modal sosial yang berharga. Ke depan, semangat sinergi ini perlu terus dipertahankan agar setiap agenda nasional, sekecil apa pun, dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan bermartabat. Negara hadir, aparat bekerja, dan masyarakat pun merasa terlindungi.

)*Penulis Merupakan Pengamat Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *