Hilirisasi Jawaban atas Tekanan Harga Komoditas

Oleh: Alexandro Dimitri*)

Tekanan harga komoditas global kembali menjadi ujian serius bagi perekonomian nasional. Fluktuasi harga yang dipicu perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim berdampak langsung pada negara-negara produsen bahan mentah, termasuk Indonesia. Ketergantungan pada ekspor komoditas primer membuat posisi tawar petani dan pelaku usaha hulu kerap lemah saat harga jatuh. Dalam konteks inilah, kebijakan hilirisasi semakin relevan dan strategis sebagai jawaban jangka menengah hingga panjang atas tekanan harga komoditas.

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir konsisten mendorong hilirisasi di berbagai sektor, tidak hanya pertambangan, tetapi juga perkebunan dan kehutanan. Arah kebijakan ini sejalan dengan kebutuhan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat struktur industri nasional, serta melindungi pendapatan petani dan pelaku usaha dari volatilitas harga global. Situasi terkini menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil mengembangkan industri pengolahan domestik relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar internasional dibandingkan negara yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, dalam sejumlah kesempatan menegaskan bahwa hilirisasi perkebunan dan kehutanan merupakan instrumen penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Menurutnya, selama Indonesia terus menjual komoditas dalam bentuk mentah, maka nilai ekonomi terbesar justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi atau setengah jadi. Dengan hilirisasi, rantai nilai dapat dipindahkan ke dalam negeri sehingga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan dan perkebunan, serta memperluas basis penerimaan negara. Ia juga menilai bahwa pengembangan industri berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global yang kini semakin menuntut produk bernilai tambah dan ramah lingkungan.

Dorongan hilirisasi tersebut semakin relevan di tengah tren penurunan harga beberapa komoditas perkebunan di pasar dunia. Ketika harga bahan baku melemah, industri pengolahan di dalam negeri justru dapat menjadi penyangga karena menciptakan permintaan domestik yang stabil. Dengan demikian, petani tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ekspor mentah yang fluktuatif, melainkan memiliki alternatif pasar melalui industri hilir nasional.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni, juga berpandangan bahwa hilirisasi adalah kunci untuk menjaga keseimbangan ekonomi perkebunan nasional. Ia melihat bahwa tekanan harga global tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui penguatan industri pengolahan di dekat sentra produksi. Dengan membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi, menekan biaya logistik, dan memperkuat daya saing produk olahan di pasar domestik maupun internasional. Abdul Roni menilai bahwa langkah pemerintah mendorong kemitraan antara petani, koperasi, dan industri pengolahan merupakan strategi tepat untuk memastikan manfaat hilirisasi dirasakan secara merata.

Dalam perkembangan terbaru, pemerintah juga mempercepat berbagai insentif untuk menarik investasi di sektor hilir perkebunan. Kebijakan kemudahan perizinan, dukungan pembiayaan, serta pembangunan infrastruktur penunjang menjadi sinyal kuat bahwa hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan agenda nyata. Di tengah ketidakpastian global, langkah ini dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian dan perkebunan.

Komitmen pemerintah semakin terlihat dari dukungan konkret terhadap komoditas strategis, salah satunya kakao. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, baru-baru ini menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan ratusan juta benih unggul untuk mendukung hilirisasi kakao, khususnya di daerah sentra produksi. Ia memandang bahwa penguatan hulu melalui benih berkualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan industri hilir agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga bagian dari rantai nilai yang lebih menguntungkan. Dengan produktivitas yang meningkat dan dukungan industri pengolahan, kakao Indonesia diyakini mampu bersaing di pasar global dengan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Langkah ini sejalan dengan kebutuhan untuk mengantisipasi tren permintaan global yang semakin mengarah pada produk olahan. Pasar internasional kini tidak lagi sekadar mencari bahan baku, tetapi juga produk dengan standar kualitas, keberlanjutan, dan traceability yang tinggi. Hilirisasi memungkinkan Indonesia memenuhi tuntutan tersebut sekaligus memperkuat merek nasional di pasar dunia.

Secara keseluruhan, hilirisasi terbukti menjadi jawaban strategis atas tekanan harga komoditas yang terus berulang. Kebijakan ini tidak hanya melindungi petani dan pelaku usaha dari fluktuasi harga global, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penciptaan nilai tambah, lapangan kerja, dan peningkatan daya saing. Dengan konsistensi kebijakan, dukungan lintas kementerian, serta keberpihakan nyata kepada pelaku usaha dan petani, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam membangun ekonomi yang lebih tangguh dan berdaulat. Ke depan, hilirisasi bukan hanya menjadi solusi jangka pendek, melainkan pilar utama pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan di bawah kepemimpinan pemerintah saat ini.

*) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *