Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi intensif antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berhasil menunjukkan efektivitas operasi modifikasi cuaca untuk menurunkan potensi curah hujan di Provinsi Aceh pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025. Upaya strategis ini menjadi bagian dari respons cepat pemerintah dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena alam seperti Siklon Tropis Senyar yang telah menyebabkan intensitas hujan luar biasa tinggi di Aceh dan wilayah sekitarnya.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan dengan armada pesawat khusus yang menyemai bahan seperti Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) pada ketinggian tertentu di wilayah udara Aceh. Teknologi ini bertujuan mengendalikan pembentukan awan agar intensitas hujan berkurang dan dapat dialihkan ke wilayah yang lebih aman, seperti lautan, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menekan risiko bencana dan mempercepat pemulihan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca merupakan respons strategis pemerintah terhadap kondisi cuaca ekstrem yang mengancam keselamatan masyarakat. Menurut Muhari, OMC dilaksanakan dengan koordinasi intensif bersama BMKG dan dukungan penuh dari TNI Angkatan Udara untuk penyediaan pesawat dan sumber daya.
“Operasi modifikasi cuaca lintas kementerian dan lembaga ini berfungsi sebagai dukungan mitigasi dan penanganan darurat dengan tujuan utama mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana melalui rekayasa pengalihan awan hujan ke wilayah yang lebih aman,” ujar Abdul.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa operasi tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan di tengah tantangan cuaca ekstrem. Data terbaru menunjukkan operasi modifikasi cuaca berhasil menurunkan intensitas curah hujan di Provinsi Aceh hingga lebih dari 23 persen dibandingkan potensi curah hujan awal, sehingga mempercepat stabilisasi kondisi cuaca dan membantu proses pemulihan di lapangan.
“Operasi modifikasi cuaca bersama dengan BNPB saat ini aktif di tiga provinsi, dan terbukti menurunkan intensitas curah hujan, bervariasi dari 15% hingga 20%. Secara khusus di Aceh, paparnya, penurunan yang tercatat mencapai 23,35 persen,” ujar Andri.
Pakar klimatologi dari Institut Teknologi Bandung, Prof. dr. Siti Nurhayati, menyatakan bahwa penerapan teknologi modifikasi cuaca yang dipimpin pemerintah Indonesia merupakan bentuk inovasi adaptif terhadap perubahan iklim yang semakin dinamis.
“Langkah pemerintah melalui integrasi data BMKG dan eksekusi BNPB dalam operasi modifikasi cuaca adalah contoh nyata bagaimana negara menggunakan teknologi untuk melindungi masyarakat dari risiko cuaca ekstrem. Ini bukan saja mitigasi bencana, tetapi juga langkah preventif yang mengurangi kost sosial ekonomi dari bencana hidrometeorologi,” ujar Prof. Siti.
Sejalan dengan data terbaru BMKG, prakiraan cuaca untuk Aceh dan wilayah Sumatera Utara kini menunjukkan tren yang lebih stabil, dengan dominasi curah hujan ringan hingga moderat dalam beberapa pekan terakhir, memberikan ruang bagi percepatan penanganan pascabanjir, termasuk pembangunan hunian sementara dan perbaikan infrastruktur yang terdampak.
Keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini menjadi bukti nyata kerja sama antarlembaga di bawah koordinasi pemerintah pusat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Dengan sinergi teknologi dan kebijakan yang kuat, pemerintah menunjukkan bahwa perlindungan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama, sekaligus memperkuat ketahanan nasional terhadap ancaman bencana di masa depan.*
















Leave a Reply